ilmu sosiologi

NAMA            : RIZKI ADHA ROSSA

NIM                : 22101091-2

JURUSAN      : PENDIDIKAN ISLAM

 

ILMU SOSIOLOGI

 

 

SEJARAH ILMU SOSIOLOGI

Para tokoh yang mencoba mengamati manusia dan masyarakat adalah Konfusius (551-479 SM) di Cina; Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM) di Yunani; Ibnu Khaldun (1332-1406) di Arab; William Shakespeare (1564-1616) di Inggris. Para tokoh tersebut lebih tertarik untuk membayangkan masyarakat yang ideal atau masyarakat yang seharusnya, tanpa melihat masyarakat sebagai apa adanya.

Setelah pecahnya Revolusi Prancis (abad ke-19), masyarakat Prancis dilanda konflik antarkelas. Auguste Comte (1798-1857) melihat hal itu terjadi karena masyarakat tidak lagi mengetahui bagaimana mengatasi perubahan akibat revolusi dan hukum-hukum apa saja yang dapat dipakai untuk mengatur tatanan sosial masyarakat. Oleh karena itu, Comte menyarankan agar semua penelitian tentang masyarakat ditingkatkan menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri yang disebut sosiologi hingga dia disebut bapak sosiologi. Comte menawarkan suatu konsep masyarakat yang apa adanya (positivisme). Kemudian Emile Durkheim mengembangkan sosiologi menjadi ilmu dengan metodologi melalui bukunya Rules of Sociological Method. Herbert Spencer yang mempopulerkan istilah sosiologi melalui buku Principles of Sociology.

Sosiologi merupakan ilmu yang selalu dinamis dan bergerak menyesuaikan dengan konteks tempatnya hidup. Bagi sosiolog, permasalahan teknis yang dihadapi bukanlah menentukan aliran mana yang paling tepat untuk digunakan (positivism atau post-positivism), melainkan bagaimana memadukan aliran-aliran yang ada tersebut untuk mendapatkan pemahaman lebih menyeluruh tentang masyarakat.

 

DEFINISI ILMU SOSIOLOGI

August Comte

Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Ungkapan ini dipublikasikan diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul “Cours De Philosophie Positive” karangan August Comte (1798-1857). Menurutnya sosiologi adalah suatu disiplin ilmu yang bersifat positif yaitu mempelajari gejala-gejala dalam masyarakat yang didasarkan pada pemikiran yang bersifat rasional dan ilmiah.

Max Weber

Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang tindakan sosial atau perilaku-perilaku manusia

Emile Durkheim

Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial yaitu fakta-fakta atau kenyataan yang berisikan cara bertindak, cara perpikir dan cara merasakan sesuatu.

Herbert Spencer

Sosiologi adalah Ilmu yang menyelidiki tentang susunan-susunan dan proses kehidupan sosial sebagai suatu keseluruhan / suatu sistem.

Soerjono Soekanto

Sosiologi adalah Ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.

Hassan Shadily

Sosiologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antar manusia yang menguasai kehidupan dengan mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta perubahannya

 

KEGUNAAN ILMU SOSIOLOGI

Sosiologi mempunyai kegunaan dalam menemukan sebab terjadinya masalah sosial dan dalam tahap pembangunan.

1) Dalam menemukan sebab terjadinya masalah sosial

Sesuai dengan objek kajiannya, sosiologi terutama meneliti gejala-gejala dalam masyarakat, seperti norma-norma, kelompok sosial, perubahan sosial dan kebudayaan, serta perwujudannya. Tetapi dalam masyarakat, gejala-gejala tersebut sebagian ada yang berlangsung tidak dengan semestinya atau tidak normal. Gejala-gejala yang tidak normal tersebut dinamakan sebagai masalah sosial. Sosiologi berusaha mempelajari masalah-masalah sosial tersebut dengan tujuan untuk menemukan sebab terjadinya masalah tersebut, tetapi tidak terlalu menekankan pada pemecahan atau jalan keluar dari masalah tersebut. Dengan penelitian yang dilakukan, akan diperoleh data dan kemudian digunakan untuk merencanakan kebijakan yang menyangkut masyarakat.

2) Dalam tahap pembangunan

Suatu penelitian yang dilakukan pada dasarnya bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran yang sejalan dengan hasrat atau keinginan manusia untuk mengetahui apa yang dihadapinya dalam kehidupan. Selain itu, penelitian juga merupakan saran bagi masyarakat untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi.

Penelitian dalam sosiologi sendiri merupakan proses pengungkapan kebenaran dengan menggunakan konsep-konsep dasar seperti interaksi sosial, kelompok sosial, kebudayaan, lembaga sosial, lapisan sosial, kekuasaan, dan wewenang, perubahan-perubahan sosial, dan masalah sosial. Hasil penelitian sosiologi nantinya dapat dimanfaatkan oleh ilmu-ilmu sosial lainnya, karena penelitian sosiologi banyak memusatkan perhatian kepada masyarakat.

 

 

Advertisements

Metodologi Pendidikan

 PEMBIASAAN SHOLAT 5 WAKTU MENGGUNAKAN

TEORI CLASSICAL CONDITIONING PADA SISWA SEKOLAH DASAR

OLEH: RIZKI ADHA ROSSA

 

 

A. PENDAHULUAN

            Pengajaran agama di Indonesia memiliki riwayat yang sangat panjang untuk dapat dimasukkan ke dalam kurikulum disekolah-sekolah umum. Khususnya agama Islam, pada zaman penjajahan Belanda dilakukan secara tidak resmi dengan bertabligh disekolah-sekolah umum di luar jam sekolah, kenyataannya perhatian murid-murid  sangat besar karena mereka sangat membutuhkan santapan rohani. Sesudah Indonesia merdeka pendidikan agama telah mulai diberikan disekolah-sekolah negeri.

Atas dasar tersebut berarti pengajaran agama tidak hanya dilakukan dilingkungan keluarga dan lembaga non formal lainnya tetapi juga, lambat laun mulai diakui disekolah formal seiring perubahan sistem pemerintahan Indonesia yang semakin mengukuhkan pendidikan agama Islam sebagai mata pelajaran wajib, bagi penganutnya.

            Dengan adanya mata pelajaran agama tentunya para guru diharap dapat lebih maksimal dalam mengajarkannya kepada siswa dan juga mampu mencontohkan sehingga nantinya siswa jadi terbiasa dengan apa yang diajarkan guru, terutama tentang pentingnya shalat 5 waktu.

Proses pendidikan yang menekankan pembiasaan sangat menuntut para guru untuk memberikan contoh atau keteladanan (uswah hasanah) sehingga seorang anak didik akan lebih mudah untuk mengamalkan suatu ilmu karena telah dicontohkan dan juga dibiasakan oleh orang dewasa yang berada di sekitar mereka.

 

 

 

 

B. PEMBAHASAN

Definisi Pembiasaan

Secara etimologis kata “pembiasaan” berasal dari kata “biasa”.[1] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata biasa berati lazim, biasa dan umum, seperti sediakala sebagaimana yang sudah-sudah, sudah merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, sudah menjadi adat,  sudah seringkali, sebagai yang sudah-sudah,  tidak menyalahi adat, atau tidak aneh. Dengan adanya prefiks “pe” dan suffiks “an” menunjukkan arti proses. Sehingga pembiasaan dapat berarti suatu proses menjadikan sesuatu tindakan atau perbuatan terbiasa atau bisa dilakukan oleh oleh seseorang, sehingga menjadi suatu tindakan yang tidak aneh lagi baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain di sekitarnya.

 Kemudian, definisi lainnya tertulis, Pembiasaan berasal dari kata dasar “biasa” yang berarti sebagai sedia kala, sebagai yang sudah-sudah, tidak menyalahi adat, atau tidak aneh. Dengan adanya prefiks “pe” dan suffiks “an” menunjukkan arti proses. Sehingga pembiasaan dapat berarti suatu prosess menjadikan sesuatu tindakan atau perbuatan terbiasa atau bisa dilakukan oleh seseorang. [2]

 

Shalat 5 Waktu

Secara etimologi shalat berarti do’a dan secara terminologi, para ahli fiqih mengartikan secara lahir dan hakiki.[3] Secara lahiriah shalat berarti beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, yang dengannya kita beribadah kepada Allah SWT menurut syarat–syarat yang telah ditentukan.[4] Adapun secara hakikinya ialah berhadapan hati (jiwa) kepada Allah SWT yang mendatangkan takut kepada-Nya serta menumbuhkan di dalam jiwa rasa kebesaran dan kesempurnaan kekuasaan-Nya.[5]

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa shalat adalah merupakan ibadah kepada Allah, berupa perkataan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam menurut syarat dan rukun yang telah ditentukan syara’. Juga shalat merupakan penyerahan diri (lahir dan bathin) kepada Allah dalam rangka ibadah dan memohon ridho-Nya.

Shalat adalah tiang (rukun) Islam yang kedua sesudah Syahadatain, di atas tiang itulah tegak pada diri seorang muslim, sesudah seseorang mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa dan Muhammad sebagai rasul, maka kewajiban pertamanya adalah shalat 5 waktu (shalat wajib/fardhu) yang mesti dilakukan lima kali sehari semalam.[6]

Adapun shalat lima 5 waktu itu adalah:[7]

a. Shalat zuhur, 4 raka’at, waktunya sejak matahari condong kearah barat sampai bayangan sama panjangnya dengan bendanya.

b. Shalat ashar, 4 raka’at, waktunya sejak bayangan lebih panjang dari bendanya sampai bayangan 2 kali lebih panjang dari bendanya, sekitar hampir terbenamnya matahari.

c. Shalat magrib, 3 raka’at, dan waktunya sejak terbenam matahari sampai mega kuning hilang.

d. Shalat isya, 4 raka’at, dan waktunya sejak hilangnya mega kuning sampai fajar  shadiq (hampir) terbit.

e. Shalat subuh, 2 raka’at, waktunya dari mulai terbit fajar sampai terbit matahari.

Berikut adalah rukun-rukun dalam shalat 5 waktu:[8]

a. Niat shalat, bermaksud mengerjakan shalat dan macam shalat yang akan dilakukan harus disebutkan, niat dalam seluruh ibadah di ungkapkan dalam hati, maka tidak cukup hanya disebut di lisan saja.

b. Berdiri bagi orang yang mampu, bagi orang yang tidak mampu boleh dengan posisi apapun tapi di sesuaikan dengan kemampuannya.

c. Takbiratul Ihram yaitu mengangkat kedua belah tangan hingga sejajar dengan bahu atau kedua telinga seraya mengucapkan takbir (Allahu Akbar) kemudian tangan dilipat diatas dada dan ulu hati, yang kanan di atas yang kiri.

d. Membaca surat Al-Fatihah.

e. Ruku’ serta thuma’ninah (berdiam sebentar).

f. I’tidal disertai thuma’ninah.

g. Sujud dua kali serta thuma’ninah.

h. Duduk antara dua sujud serta thuma’ninah.

i. Duduk Tasyahhud akhir.

j. Membaca bacaan tasyahud akhir.

k. Membaca shalawat atas Nabi Muhammad SAW pada ketika telah selesai membaca bacaan tasyahud akhir.

l. Memberi salam.

m. Menertibkan rukun, artinya meletakkan rukun pada tempatnya menurut susunan yang tersebut di atas.

 

Classical Conditioning

 Behaviorisme merupakan salah satu cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku individu dalam belajar. Salah satu teori behaviorisme adalah classical conditioning yang menganut paham bahwa belajar merupakan kegiatan organisme yang dapat diamati.[9] Definisi dari classical conditioning adalah suatu proses pengkondisian klasik dimana stimulus/perangsang asli dan netral atau rangsangan biasanya jika dipasangkan berulang-ulang akan menimbulkan suatu respons/reaksi.[10] Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa berupa respon harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.[11]

Classical conditioning (pembiasaan klasik) dipopulerkan oleh seorang tokoh psikologi aliran behavioristik yang berpengalaman dalam melakukan serangkaian percobaan psikologi pada binatang yaitu Ivan Petrovich Pavlov, seorang ilmuwan dari Rusia dengan menggunakan media anjing dalam eksperimennya untuk mengetahui hubungan antara conditioned stimulus/CS (rangsangan yang mampu mendatangkan respons yang dipelajari), unconditioned stimulus/UCS (rangsangan yang menimbulkan respons alami/yang tidak dipelajari), conditioned response/CR (respons yang dipelajari) unconditioned response/UCR (respons alami/yang tidak dipelajari).[12]

Dalam eksperimen tersebut anjing itu diikat dan dioperasi pada bagian rahangnya sedemikian rupa, sehingga tiap-tiap air liur yang keluar dapat ditampung dan diukur jumlahnya. Pavlov kemudian menekan bel (CS) dan keluarlah semangkuk makanan (UCS) di hadapan anjing percobaan. Eksperimen ini dilakukan berulang-ulang. Sebagai reaksi atas munculnya makanan, anjing itu mengeluarkan air liur (UCR) yang dapat terlihat jelas pada alat pengukur. Kemudian dilakukan lagi eksperimen dengan membunyikan bel (CS) berulangkali tanpa disertai makanan (UCS) hasilnya adalah anjing tersebut tetap mengeluarkan liur (CR).[13] Jadi dapat disimpulkan bahwa CS dapat menghasilkan CR apabila CS dan UCS dihadirkan berulang-ulang secara bersamaan.[14]

            Kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah bahwa tingkah laku sebenarnya tidak lain daripada rangkaian respons berkondisi, yaitu respons-respons yang terjadi setelah adanya proses kondisioning (conditioning process) di mana respons-respons yang tadinya dihubungkan dengan rangsang-rangsang tak berkondisi lama-kelamaan dihubungkan dengan rangsang berkondisi.

            Apakah situasi ini bisa diterapkan dalam dunia pendidikan, khususnya untuk meningkatkan disiplin siswa?  jawabanya adalah percobaan / teori pavlov ini dapat diterapkan di dunia pendidikan.

            Tidak dapat dipungkiri bahwa peserta didik akan cenderung ribut di kelas apabila guru tidak hadir dikelas. Peserta didik merasa bebas apabila guru tidak hadir di kelas. Kita dapat melatih disiplin untuk hal ini melalui kehadiran guru di kelas tepat pada waktunya. Guru hadir di kelas maka peserta didik juga akan belajar disiplin dengan sendirinya. Figur seorang guru sangat diperlukan peserta siswa. Sekarang kita coba dengan stimulus yang dikondisikan, yaitu bunyi bel (CS). Begitu bel dibunyikan guru (UCS) langsung masuk kelas maka murid akan teratur, disiplin dan tidak ribut (UCR). Apabila hal ini dikondisikan secara simultan maka peserta didik akan memiliki sebuah konsep dalam pikirannya bahwa pasti guru sudah siap di kelas sehingga siswa akan selalu berusaha juga untuk tidak terlambat masuk kelas. Ketika suatu saat guru terlambat masuk kelas, siswa akan tetap berusaha tidak terlambat masuk kelas setelah mendengar bunyi bel karena sudah dikondisikan tadi. Hanya saja kalau hal ini berlangsung terus menerus, terdengar bunyi bel dan guru belum masuk kelas maka kondisi ini akan kembali seperti semula. Siswa mengalami kemunduran dalam disiplin[15]

Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.[16]

Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :[17]

a. Law of Respondent Conditioning, yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforce/penguat), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.

b. Law of Respondent Extinction, yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika   refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.

Dari hasil percobaan itu dapat diambil pelajaran bahwa, suatu tingkah laku pada awalnya sangat sulit untuk melakukannya, namun karena sering mengulanginya akhirnya ia terbiasa dan menguasai tingkah laku tersebut.

            Di sinilah pentingnya pembiasaan bagi siswa untuk menerapkannya dalam belajar, sebab sesuatu pengetahuan atau tingkah laku yang diperoleh dengan pembiasaan, maka apa yang diperoleh itu akan sangat sulit untuk mengubah atau menghilangkannya, sehingga cara ini sangat berguna dalam mendidik anak. Demikian juga halnya dalam pembelajaran, siswa dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar siswa diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi.[18]

Kelebihan dan kekurangan teori classical conditioning[19]

Kelebihan

1. Membiasakan guru untuk bersikap jeli dan peka pada situasi dan kondisi belajar

2. Metode ini dapat diterapkan untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan.

3. Guru tidak banyak memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri.

4.  Teori ini cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan   dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru, senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung (mungkin seperti diberi permen atau pujian).

5.  Mampu membentuk suatu perilaku yang diinginkan mendapatkan penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif, yang didasari pada perilaku yang tampak.

6.  Dengan melalui pengulangan dan pelatihan yang berkesinambungan dapat mengoptimalkan bakat dan kecerdasan siswa yang sudah terbentuk sebelumnya. Jika anak sudah mahir dalam satu bidang tertentu maka akan lebih dapat dikuatkan lagi dengan pembiasaan dan pengulangan yang optimal.

Kekurangan

1. Tidak setiap mata pelajaran bisa menggunakan metode ini

2. Penerapan teori ini dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang bersifat teacher centered, otoriter, komunikasi berlangsung satu arah.

3. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh behaviorisme  justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa

4. Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru

5. Penerapan teori behavioristik yang salah dalam suatu kondisi pembelajaran dapat mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa dan dapat menekan kreatifitas siswa.

 

Siswa SD (Sekolah Dasar)

Usia rata-rata anak Indonesia saat masuk sekolah dasar adalah 6 tahun dan selesai pada usia 12 tahun. Kalau mengacu pada pembagian tahapan perkembangan anak, berarti anak usia sekolah dasar berada dalam dua masa perkembangan, yaitu masa kanak-kanak tengah (6-9 tahun), dan masa kanak-kanak akhir (10-12 tahun).[20]

Anak-anak usia sekolah ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-anak yang usia nya lebih muda. Ia senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, dan senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung. Siswa sekolah dasar umumnya berusia 7-12 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.[21]

Tugas Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar antara lain:[22]

  1. Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan – permainan yang umum. Hakikat dari tugas perkembangan ini adalah mempelajari keterampilan – keterampilan yang bersifat fisik/jasmani untuk dapat melakukan permainan.
  2. Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh. Hakikat tugas perkembangan ini adalah belajar mengembangkan sikap kebiasaan untuk hidup sehat.
  3. Belajar menyesuaikan diri dengan teman – teman seusianya. Hakikat tugas perkembangan ini adalah anak belajar memberi dan menerima dalam kehidupan sosial antar teman sebaya, dan belajar membina persahabatan dengan teman sebaya, termasuk juga bergaul dengan musuhnya.
  4. Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita dengan tepat. Hakikat tugas perkembangan ini adalah anak belajar dan bertindak sesuai dengan peran seksnya yaitu sebagai anak laki – laki atau anak perempuan.
  5. Mengembangkan keterampilan – keterampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung. Hakikat tugas perkembangan ini adalah anak belajar mengembangkan  tiga keterampilan dasar yaitu membaca, menulis dan berhitung yang diperlukan untuk hidup di masyarakat.
  6. Mengembangkan pengertian– pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari–hari. Hakikat tugas perkembangan ini adalah anak harus mempelajari berbagai konsep agar dapat berpikir efektif mengenai permasalahan sosial di sekitar kehidupan sehari – hari.
  7. Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, serta tata dan tingkatan nilai. Hakikat tugas perkembangan ini adalah mengembangkan moral yang bersifat batiniah yaitu hati nurani, serta mengembangkan pemahaman dan sikap moral terhadap peraturan dan tata nilai yang berlaku dalam kehidupan anak.
  8. Mengembangkan sikap terhadap kelompok – kelompok sosial dan lembaga – lembaga. Hakikat tugas perkembangan ini adalah mengembangkan sikap sosial yang demokratis dan menghargai orang lain.
  9. Mencapai kebebasan. Hakikat tugas perkembangan ini adalah  anak menjadi individu yang otonom atau bebas, dalam arti dapat membuat rencana untuk masa sekarang dan masa yang akan datang, bebas dari pengaruh orang tua atau orang lain.

Pembiasaan Shalat 5 Waktu Melalui Metode Classical Conditioning Pada Siswa Sekolah Dasar

            Konsep dan persepsi keagamaan pada anak dipengaruhi oleh unsur dari luar diri mereka. Hal ini terjadi karena sejak usia dini telah melihat, mendengar, mengenal dan mempelajari hal-hal yang berada di luar diri mereka. Mereka telah melihat dan mengikuti apa-apa yang dikerjakan dan diajarkan orang dewasa dan orang tua mereka tentang sesuatu. ”Orang tua mempunyai pengaruh terhadap anak sesuai dengan prinsip eksplorasi yang mereka miliki.”[23]

            Dalam kehidupan sehari-hari perilaku keagamaan yang dilakukan anak-anak pada dasarnya mereka peroleh dari meniru. Shalat 5 waktu misalnya mereka lakukan merupakan hasil melihat perbuatan itu di lingkungannya, baik berupa pembiasaan ataupun pengajaran khusus yang intensif. Sehinggga sifat meniru yang dimiliki anak ini merupakan modal yang positif dan potensial dalam pendidikan keagamaan pada anak.[24]

                 Sejak fase-fase awal kehidupan, seorang anak banyak sekali belajar melalui peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang-orang di sekitarnya, khususnya dari kedua orang tuanya dan kemudian guru di sekolah.[25]

                 Kecenderungan belajar melalui peniruan dan pembiasaan menyebabkan keteladanan menjadi sangat penting artinya dalam proses pembelajaran. Firman Allah SWT dalam surah Al Ahzab ayat 21 yang artinya:[26]

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…

 Selain itu dalam hadist juga disebutkan perintah untuk membiasakan anak shalat:

Suruhlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka apabila meninggalkannya ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka” (HR.Abu Dawud).[27]

                 Agar anak meniru sesuatu yang positif dari gurunya atau orangtuanya, maka guru dan orang tua  harus menjadikan dirinya sebagai uswatun hasanah dengan menampilkan diri sebagai sumber norma, budi yang luhur, dan perilaku yang mulia.

                 Dengan demikian ketaatan kepada ajaran agama merupakan kebiasaan yang menjadi milik mereka, yang dipelajari dari orang tua maupun guru. Bagi anak sangat mudah untuk menerima ajaran dari orang dewasa walaupun ajaran itu belum mereka sadari sepenuhnya manfaat ajaran tersebut.

                 Berawal dari peniruan dan selanjutnya dilakukan pembiasaan di bawah bimbingan guru dan orang tua, anak akan semakin terbiasa. Bila sudah menjadi kebiasaan yang tertanam jauh di dalam hatinya, anak itu kelak akan sulit untuk berubah dari kebiasaannya itu. Ia, misalnya, akan melakukan shalat berjamaah bila waktu shalat tiba, tidak akan berpikir panjang apakah shalat dulu atau melakukan hal lain, apakah berjamaah atau nanti saja shalat sendirian. Hal ini disebabkan karena kebiasaan itu merupakan perilaku yang sifatnya otomatis, tanpa direncanakan terlebih dahulu, berlangsung begitu saja tanpa dipikirkan lagi.

     hal ini sejalan dengan teori Pavlov yang dapat digunakan untuk membiasakan anak sekolah dasar agar mau shalat 5 waktu sejak dini.[28]

                 Keteladanan dan pembiasaan dalam pendidikan amat dibutuhkan karena secara psikologis, anak didik lebih banyak mencontoh prilaku atau sosok figur yang diidolakannya termasuk gurunya. Pembiasaan juga tak kalah pentingnya dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini disebabkan karena setiap pengetahuan atau tingkah laku yang diperoleh dengan pembiasaan akan sangat sulit mengubah atau menghilangkannya sehingga cara ini amat berguna dalam mendidik anak.[29]

 

KESIMPULAN

                 Dalam pembelajaran, siswa dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik diharap mampu mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar siswa diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Pendidik Ideal

NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI PROTOTIPE PENDIDIK IDEAL

OLEH: RIZKI ADHA ROSSA

 

PENDAHULUAN

Sistem pendidikan Islam pada masa Rasulullah merupakan model pertama yang terus menerus di kembangkan umat Islam untuk kepentingan pendidikan pada zamannya. Rasulullah melakukan pendidikan setelah menerima perintah dari Allah sebagaimana termaktub dalam surah al-muddatsir ayat 1-7, dalam ayat tersebut Allah menyuruh Rasulullah untuk bangkit. Menyuruh disini berarti yang berarti mengajak dan mengajak berarti mendidik. Pada masa awal pendidikan Islam, tentu saja pendidikan formal yang sistematis belum terselenggara dan pendidikan formal baru muncul masa belakangan yakni dengan kebangkitan madrasah.

Permulaan pendidikan Islam bisa di temukan pada masa Rasulullah dimana beliau menyiarkan konsep perubahan radikal yang berkesinambungan. Konsep tersebut dapat kita lihat pada periode Makkah dan Madinah dimana setiap periode tersebut memiliki karakteristik tersendiri yang bertujuan guna membentuk kepribadian muslim yang tangguh. Pada periode Makkah, Rasulullah lebih menitik beratkan pembinaan moral dan akhlak serta tauhid kepada masyarakat Arab yang bermukim di Makkah dan pada periode di Madinah Rasulullah melakukan pembinaan di bidang sosial politik. Disinilah pendidikan Islam berkembang pesat.

Pendidikan yang Rasulullah terapkan tidak sekedar transfer ilmu pengetahuan akan tetapi transfer nilai-nilai spiritual. Nilai-nilai ketuhanan ditransmisikan kepada para sahabat dan shahabiyah ketika itu. Pendidikan yang dilahirkan adalah pendidikan yang mengacu kepada kebenaran Allah, Tuhan Semesta Alam. Dengan begitu generasi terbaik yang dihasilkan merupakan generasi yang konsisten didalam menularkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran.       

       Salah satu faktor penting kejayaan pendidikan pada masa Rasulullah adalah karena beliau menjadikan dirinya sebagai model dan teladan bagi umatnya. Rasulullah adalah Al-Qur’an yang hidup (the living Qur’an). Beliau adalah pelaksana pertama semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya. Oleh karenanya para sahabat dimudahkan dalam mengamalkan ajaran Islam yaitu dengan meniru perilaku Rasulullah.

 

 

 

PEMBAHASAN

Pendidikan Islam pada masa Rasulullah merupakan prototipe yang terus menerus dikembangkan umat Islam untuk kepentingan pendidikan pada zamannya.[1] Rasulullah melakukan pendidikan Islam setelah mendapat perintah dari Allah sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an:

 

Artinya: “1.Hai orang yang berkemul (berselimut), 2. Bangunlah, lalu berilah peringatan!        3. Dan Tuhanmu agungkanlah! 4.  Dan pakaianmu bersihkanlah, 5. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, 6.  Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.   7.  Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.”[2]

 

Ayat di atas adalah seruan Allah kepada Rasulullah. Menyeru disini berarti mengajak, dan mengajak yang berarti mendidik. Pada masa awal pendidikan Islam tentu saja pendidikan formal yang sistematis belum terselenggara dan pendidikan formal baru muncul pada masa belakangan yakni dengan kebangkitan madrasah. Permulaan pendidikan Islam bisa ditemukan di Mekah pada zaman Nabi Muhammad.[3]

Pada masa ini pendidikan Islam diartikan pembudayaan ajaran Islam yaitu memasukkan ajaran-ajaran Islam dan menjadikannya sebagai unsur budaya bangsa Arab dan menyatu kedalamnya. Dengan pembudayaan ajaran Islam ke dalam sistem dan lingkungan budaya bangsa Arab tersebut, maka terbentuklah sistem budaya Islam dalam lingkungan budaya bangsa Arab. Dalam proses pembudayaan ajaran Islam ke dalam lingkungan budaya bangsa Arab berlangsung dengan beberapa cara. Ada kalanya Islam mendatangkan sesuatu ajaran bersifat memperkaya dan melengkapi unsur budaya yang telah ada dengan menambahkan yang baru. Ada kalanya Islam mendatangkan ajaran yang sifatnya bertentang sama sekali dengan unsur budaya yang telah ada sebelumnya yang sudah menjadi adat istiadat. Ada kalanya Islam mendatangkan ajarannya bersifat meluruskan kembali nilai-nilai yang sudah ada yang praktiknya sudah menyimpang dari ajaran aslinya.[4]

 

A. Tugas Kerasulan Muhammad

Keberadaan Rasulullah sebagai seorang guru dan materi pendidikannya yang merupakan tugas kerasulan beliau sudah dirancang dan persiapkan oleh Allah SWT:

 

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ                                                             “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasulullahdi antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” [5]

 

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِين                                            

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasulullahdari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.[6]

Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa Rasulullah diutus oleh Allah SWT kepada umatnya untuk menanamkan ilmu sekaligus mensucikan jiwa mereka. Mensucikan berarti membersihkan dari sifat-sifat buruk yang merupakan kebiasaan sebagian besar masyarakat Makkah pada masa itu, seperti syirik, dengki, takabur serta prilaku buruk lainnya seperti mabuk-mabukan, merampas hak orang lain dan lain-lain. Rasulullah membongkar pola pikir masyarakat penyembah berhala hingga mereka menyadari akan kewajiban-kewajibannya menyembah Allah SWT sebagai pencipta, pengatur, pemelihara umat manusia.[7] Pensucian jiwa dan penyadaran sikap bertauhid dilakukan oleh Rasulullah. dengan pengajaran dan pendidikan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi masyarakat pada waktu itu. [8]

Rasulullah telah bersungguh-sungguh dalam mendidik dan mengajar para sahabat dan generasi muslim, hingga mereka memiliki kesempurnaan ahlak, kesucian jiwa dan karakter yang bersih.

Dalam perspektif psikologi pendidikan, mengajar pada prinsipnya berarti proses perbuatan seseorang (guru) yang membuat orang lain (siswa) belajar, dalam arti mengubah seluruh dimensi prilakunya. Prilaku itu meliputi tingkah laku yang bersifat terbuka seperti keterampilan membaca (ranah karsa/psikomotor), juga yang bersifat tertutup, seperti berfikir (ranah cipta/kognitif) dan berperasaan (ranah rasa/afektif). [9]         Sebagai seorang guru, Rasulullah telah berhasil mengubah dimensi perilaku bangsa Arab pada saat itu. Bahkan lebih dari itu Rasulullah sudah menunjukan kesempurnaan sebagai seorang pendidik sekaligus pengajar, karena beliau dalam pelaksanaan pembelajarannya sudah mencakup semua aspek yang ditetapkan oleh oleh para ahli pendidikan bahwa pendidikan harus bersifat kognitif (Rasulullah  menularkan pengetahuan dan kebudayaan kepada orang lain), bersifat psikomotorik (Rasulullah melatih keterampilan jasmani kepada para sahabatnya), bersifat afektif (Rasulullah selalu menanamkan nilai dan keyakinan kepada sahabatnya).[10]

 

B. Periode Pendidikan Pada Masa Rasulullah

Para sejarawan membagi periode awal Islam atau pendidikan umat Islam menjadi periode Makkah dan Madinah. Periode Makkah merupakan peletakan dasar-dasar agama tauhid dan pembentukan akhlak mulia. Periode Madinah menandai kemunculan Islam sebagai sebuah kekuatan sosial dan politik. Rasulullah tidak lagi hanya tampil sebagai seorang rasul
yang menyerukan agama Islam tetapi sebagai pemimpin dari sebuah komunitas peradaban baru yang berpusat di Madinah. Dengan demikian pembentukan sebuah masyarakat Islami telah dimulai, sejak itu wahyu yang turun tidak lagi terbatas pada seputar ke-Esaan Tuhan tetapi mulai mencakup ajaran lainnya yang berhubungan dengan pengaturan kehidupan masyarakat.[11]

 

Pendidikan Islam Pada Masa Rasulullah di Makkah

Rasulullah menerima wahyu yang pertama di Gua Hira di Makkah pada tahun 610 M.[12] Dalam wahyu itu termaktub ayat Al-Qur’an yang artinya:“Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang telah menjadikan (semesta alam). Dia menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmu maha pemurah. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.”[13]

Perintah dan petunjuk tersebut pertama-tama ditujukan kepada Rasulullah tentang apa yang harus ia lakukan, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap ummatnya. Itulah petunjuk awal kepada Rasulullah agar beliau memberikan peringatan kepada ummatnya. Kemudian bahan materi pendidikan tersebut diturunkan secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit. Setiap kali menerima wahyu, segera di sampaikan kepada ummatnya, diiringi penjelasan dan contoh-contoh bagaimana pelaksanaanya.

Rasulullah telah mendidik ummatnya secara bertahap. Beliau mulai dengan mendidik istrinya Khadijah kemudian anak angkatnya Ali Bin Abi Thalib dan Zaid ibn Haritsah lalu sahabat karibnya Abu Bakar As-Shiddiq secara berangsur-angsur hingga meluas tetapi masih terbatas dikalangan keluarga dekat suku Quraisy saja. Hal ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi (sirriyatud dakwah).[14]

Setelah banyak orang memeluk Islam, lalu Rasulullah menyediakan rumah Al- Arqam bin Abil Arqam[15] untuk tempat pertemuan sahabat-sahabat dan pengikut-pengikutnya. di tempat itulah pendidikan Islam pertama dalam sejarah pendidian Islam. Disanalah Rasulullah mengajarkan dasar-dasar atau pokok-pokok agama Islam kepada sahabat-sahabatnya dan membacakan wahyu-wahyu (ayat-ayat) Al-Qur’an kepada para pengikutnya serta Rasulullah menerima tamu dan orang-orang yang hendak memeluk agama Islam atau menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam. Bahkan disanalah Rasulullah beribadah (shalat) bersama sahabat-sahabatnya.[16]

Demikian hal tersebut berlangsung sampai lebih 3 tahun, Lalu turunlah wahyu untuk menyuruh kepada Rasulullah, supaya memberikan pengajaran kepada ummatnya secara terbuka dan lebih meluas (jahriyatud dakwah), bukan hanya di lingkungan kaum keluarga di kalangan penduduk Makkah, tetapi juga penduduk di luar Makkah, terutama mereka yang datang ke Makkah, baik dalam rangka ibadah haji maupun perdagangan.[17] Rasulullah melaksanakan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Banyak tantangan dan penderitaan yang diterima Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, tetapi Rasulullah tetap melakukan penyiaran Islam dan mendidik sahabat-sahabatnya dengan pendidikan Islam.

Masyarakat Arab jahiliyah pada waktu itu masih menyembah berhala dan melakukan perbuatan syirik lainnya. Inilah tugas Rasulullah untuk memancarkan kembali sinar tauhid dalam kehidupan ummat manusia umumnya, dan yang pertama-tama dihadapinya adalah kehidupan bangsa Arab pada masanya. Dan inilah intisari pendidikan Islam pada masa periode Makkah.

Pelaksanaan pendidikan tauhid tersebut diberikan oleh Rasulullah kepada ummatnya dengan cara yang sangat bijaksana, dengan menuntun akal pikiran untuk mendapatkan dan menerima pengertian tauhid yang diajarkan, dan sekaligus beliau memberikan teladan dan contoh bagaimana pelaksanaan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari secara konkrit.[18]

Dalam masa pembinaan pendidikan agama Islam di Makkah Rasulullah juga mengajarkan Al-Qur’an karena Al-Qur’an juga merupakan inti sari dan sumber pokok ajaran Islam. Kebiasaan orang Arab yang senang membaca syair-syair yang indah kini diganti dengan bacaan Al-Qur’an. Disamping itu isi dari Al-qur’an juga menjadi pedoman mereka dalam kehidupan sehari-hari.[19]

Pembinaan pendidikan Islam pada masa Makkah meliputi:[20]

  1. Pendidikan Keagamaan

Yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata jangan dipersekutukan dengan nama berhala.

  1. Pendidikan Akliyah dan Ilmiah

Yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta.

 

  1. Pendidikan Akhlak dan Budi pekerti

Yaitu Rasulullah mengajarkan kepada sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan ajaran tauhid.

  1. Pendidikan Jasmani atau Kesehatan.

Yaitu mementingkan kebersihan pakaian, badan dan tempat kediaman

 

Pendidikan Islam pada masa Rasulullah di Madinah

Berbeda dengan periode di Makkah, pada periode Madinah Islam merupakan suatu kekuatan politik. Kalau pembinaan pendidikan Islam periode Makkah bercirikan pendidikan tauhid (ketuhanan ) maka pada periode Madinah ini ciri pokoknya adalah pembinaan pendidikan Islam sebagai pendidikan sosial dan politik. Ajaran Islam yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat banyak turun di Madinah.

Cara Nabi melakukan pembinaan dan pengajaran pendidikan agama Islam di Madinah adalah sebagai berikut:

  1. Pembentukan dan pembinaan masyarakat baru, menuju satu kesatuan sosial dan politik.

Masalah pertama yang di hadapi Rasulullah dan kaum Muhajirin adalah tempat tinggal. Untuk sementara para kaum Muhajirin bisa menginap dirumah-rumah kaum Anshar. Tepi beliau sendiri memerlukan suatu tempat khusus ditengah-tengah ummatnya sebagai pusat kegiatan, sekaligus sebagai lambang persatuan dan kesatuan diantara kedua kelompok masyarakat yang mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda.[21]Oleh karena itu Nabi memerintahkan untuk membangun masjid. Masjid itu telah menjadi pusat pendidikan dan pengajaran.

Setelah selesai Rasulullah mempersatukan kaum muslimin, sehingga menjadi bersaudara, lalu Nabi mengadakan perjanjian dengan kaum Yahudi, penduduk Madinah. Dalam perjanjian itu ditegaskan, bahwa kaum Yahudi bersahabat dengan kaum muslimin, tolong-menolong, bantu-membantu, terutama bila ada serangan musuh terhadap Madinah. Mereka harus memperhatikan negeri bersama-sama kaum Muslimin, disamping itu kaum Yahudi bebas memeluk agamanya dan bebas beribadah menurut kepercayaannya. Inilah salah satu perjanjian persahabatan yang dilakukan oleh Rasulullah.[22]

  1. Pendidikan sosial politik dan kewarganegaraan[23]

Pelaksanaan pendidikan sosial politik dan kewarganegaraan secara ringkas dapat di kemukakan sebagai berikut:[24]

1)      pendidikan ukhuwah (persaudaraan)

2)      pendidikan kesejahteraan sosial

3)      pendidikan kesejahteraan keluarga dan kerabat

4)      pendidikan hankam (pertahanan keamanan)

  1. Pendidikan anak dalam Islam[25]

Dalam Islam, anak merupakan pewaris ajaran Islam yang dikembangkan oleh Rasulullah dan generasi muda muslimlah yang akan melanjutkan misi menyampaikan Islam ke seluruh penjuru alam. Oleh karenanya banyak peringatan-peringatan dalam Al-qur’an berkaitan dengan itu.

 

C. Metode dan Sarana Pendidikan Pada Masa Rasulullah

Metode Pendidikan

Diantara metode yang diajarkan Rasulullah kepada para sahabat adalah:[26]

 (1) Kuliah dan Khutbah

Biasanya Rasulullah menyampaikan kuliah dan khutbah di masjid dan di rumah terutamanya khutbah Jum’at. Selain itu, Rasulullah juga melakukan kuliah dalam bentuk halaqah[27] di masjid dan di rumah.

(2) Dialog dan Perbincangan (Diskusi)

Rasulullah pernah berdialog dengan sekumpulan pemuda Bani Al-Marith bin Ka’ab dengan tujuan supaya mereka menerima Islam dengan prinsip yang benar. Rasulullah berbincang dengan mereka agar penerimaan Islam mereka bukan karena kebaikan Khalid Al-Walid yang telah membantu mereka. Corak pengajaran ini adalah model pengajaran dua arah yaitu antara guru dan murid seperti halaqah[28].

(3) Tanya Jawab

Kaidah ini terjadi ketika Rasulullah terlibat tanya-jawab dengan Malaikat Jibril tentang Rukun Iman, Rukun Islam, Ikhsan dan Kiamat dihadapan para Sahabat-sahabatnya. Tanya jawab tersebut tiada lain adalah metode pengajaran Rasulullah kepada para sahabatnya.

(4) Hafalan

Teknik ini adalah salah satu teknik yang terdapat dalam pribadi Rasulullah, terbukti ketika Rasulullah menerima wahyu Allah yang pertama, beliau bersungguh-sungguh dan terus menerus menghafalnya agar tidak lupa sehingga turun jaminan Allah akan kekuatan hafalan dan daya ingat Rasulullah terhadap wahyu itu.

(5) Perdebatan

Teknik yang digunakan ini dipraktekan Rasulullah ketika bercerita tentang perdebatan Nabi Ibrahim dengan Raja Namrud dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 258.

(6) Cerita

Dalam menyampaikan ajaran Islam, Rasulullah banyak menggunakan metode bercerita. Hal ini terlihat karena di dalam Al-Quran banyak sekali terdapat cerita-cerita masa lampau seperti tentang nabi-nabi dan umat-umat yang terdahulu.

(7) Menggunakan Gaya dengan Bahasa Isyarat

Dalam menyampaikan pengajaran, Rasulullah juga sering menggunakan gaya atau isyarat dengan anggota badan Rasulullah. Contohnya ketika beliau menjawab pertanyaan tentang orang yang memelihara anak yatim, seperti yang digambarkan dalam sabdanya : “Aku dan orang yang memelihara anak yatim seperti dua ini (diisyaratkan ibu jari dan jari tengah)”

(8) Menggunakan Media Lukisan

Rasulullah dalam mengajar kaum muslimin pernah menggunakan ranting kayu untuk menggaris di atas tanah dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran.

 

 

(9) Pengajaran Secara Praktikal Dengan Demonstrasi

Rasulullah bukan saja mengajar dengan lisan kepada kaumnya, akan tetapi gerak-gerik (demonstrasi) beliau menunjukkan satu metode pengajaran beliau kepada umatnya. Hal ini karena peranan Rasulullah adalah sebagai qudwah dan uswah bagi umat manusia sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al-Quran : “Sesungguhnya bagi kamu pada (diri) Rasulullah itu contoh yang baik bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhirat dan dia banyak menyebut Allah.”(Qs. Al-Ahzab:21)

(10) Penggalaan & Anjuran Mempelajari Bahasa Asing

Agar umat Islam menjadi umat yang berkualitas diantara umat-umat yang lainnya, Rasulullah mengalakkan dan mengutus para sahabat untuk mempelajari bahasa asing. Diantara para sahabat, terdapat seorang yang mahir dalam bahasa Parsi, Rumawi dan Habsyi, tetapi tidak terdapat sahabat yang mahir dalam bahasa Siryani—bahasa yang digunakan oleh kaum Yahudi. Oleh itu Rasulullah memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mendalami bahasa tersebut. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah sangat peduli terhadap penggalaan mempelajari bahasa asing dalam proses pembelajaran umatnya.

(11) Menggunakan Statistik

Pada zaman sekarang, statistik dianggap sebagai metode ilmiah yang paling efektif dalam menyelesaikan beberapa permasalahan. Rasulullah telah menggunakan metode statistik ini ketika beliau mendirikan negara Islam di Madinah. Sebagaimana bunyi hadist yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim yang diterima dari Huzaifah bin Al-Yaman R.A: “Kami pernah bersama-sama Rasulullah dan beliau bersabda; ‘Buatkan data untukku siapa-siapa yang sudah memeluk Islam”

(12) Perencanaan yang Matang

Rasulullah melakukan perencanaan dalam mendidik para sahabatnya dan tidak mengajarkan mereka bertawakal dengan tanpa dibarengi usaha. Karena tawakal tersebut merupakan implementasi dari ikhtiar. Maka Rasulullah mengajarkan para sahabatnya untuk membuat perencanaan dalam setiap perkara yang hendak dilakukan. Contoh perencanaan yang dilakukan oleh Rasulullah ialah ketika hendak berhijrah ke Madinah. Walaupun keselamatan Rasulullah telah dijamin oleh Allah, tetapi beliau tetap merancang perjalanan dengan rapi agar pergerakan mereka tidak diketahui dan dihalangi oleh Musyrikin Mekah.

 

Sarana Pendidikan Pada Masa Nabi Muhammad

a. Rumah

Rumah adalah tempat pendidikan awal yang diperkenalkan ketika Islam mulai berkembang di Mekah. Pada masa awal Islam, proses pembelajaran dilaksanakan secara informal, yaitu berlangsung di rumah al Arqam bin Abi al Arqam atau biasa disebut dengan Dar al Arqam[29] di Mekkah, tepatnya di atas bukit Shafa.[30] Rasulullah menggunakan Dar al Arqam tersebut sebagai tempat pertemuan dan pengajaran dengan para sahabat. Bilangan kaum Muslim yang hadir pada masa awal Islam ini masih sangat kecil, tetapi makin bertambah sehingga menjadi 38 orang yang terdiri dari golongan bangsawan Quraisy, pedagang dan hamba sahaya.[31]           

b. Masjid[32]

Masjid selain tempat ibadah ialah sebagai tempat penyebaran dakwah dan ilmu Islam. Masjid juga menjadi tempat menyelesaikan masalah individu dan masyarakat, tempat menerima duta-duta asing, tempat pertemuan pemimpin-pemimpin Islam, tempat bersidang, dan
madrasah bagi orang-orang yang ingin menuntut ilmu khususnya tentang ajaran
Islam. Setelah Hijrah ke Madinah pendidikan kaum muslim berpusat di masjid-masjid. Masjid Quba’ merupakan masjid pertama yang dijadikan Rasulullah sebagai institusi pendidikan di dalam masjid, Rasulullah mengajar dan memberi khutbah dalam bentuk halaqah dimana para sahabat duduk mengelilingi beliau untuk mendengar dan melakukan tanya-jawab berkaitan dengan urusan agama dan kehidupan sehari-hari. Rasulullah juga menjadikan Masjid Nabawi sebagai pusat pendidikan, di masjid ini terjadi transformasi Ilmu pengetahuan antar kaum Muslim terutama pengajaran ajaran Islam. Beliau juga terlibat langsung dalam kegiatan pendidikan di masjid ini. Ketika beliau hadir bersama para sahabatnya, mereka belajar banyak hikmah darinya dan mendengarkan ayat- ayat Al Qur’an. Ketika Rasulullah SAW tidak bersama mereka maka para sahabat senior yang menyampaikan pelajaran yang telah mereka dengar lebih dulu dari Rasulullah SAW.

c. Suffah dan kuttab (ruang atau bangunan yang bersambung dengan masjid)

Masjid pada mulanya digunakan untuk pendidikan rendah bagi anak-anak. Akan tetapi kaum muslimin lebih suka kelas bimbingan anak-anak dilakukan pada tempat yang khusus, yaitu suffah dan kuttab yang berada disamping masjid. Hal itu dikhawatirkan anak-anak akan merusak masjid dan biasanya mereka tidak dapat memelihara kebersihan masjid.[33] Suffah dapat dilihat sebagai sekolah karena kegiatan pembelajaran dilakukan secara teratur dan sistematik. Contohnya Masjid Nabawi yang mempunyai suffah yang digunakan untuk majelis ilmu.[34]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keinginan Akan Suatu Keinginan

Benarkah Aku menginginkan kehadiran seorang anak?

Pertanyaan tersebut sering timbul saat aku berdoa agar diberikan keturunan dan semakin hari pertanyaan tersebut makin menghantui seiring dengan bertambahnya usia pernikahanku. Tuhan, apakah yang saat ini tengah bergejolak dalam hati ini?

Melihat wanita yang pada umumnya memiliki kodrat untuk hamil, menjadi ibu-ummi-bunda-mama atau apa saja panggilan yang layak disematkan untuk seorang wanita yang telah memiliki anak. Aku pernah merasa cemburu melihat seorang wanita yang  belum genap 2 bulan pernikahannya tapi telah hamil dan dia terlihat sangat berbahagia dengan kehamilannya tersebut. Aku sempat sedih dan merasa sebagai orang yang paling malang di dunia karena hingga saat ini belum juga ada tanda-tanda hamil pada diriku, yaitu suatu keadaan yang sangat diinginkan wanita segera setelah dia menikah. Aku merasa Tuhan sedang tidak berpihak padaku, di saat aku merindukan kehadiran anak, Tuhan belum memberinya. Apakah gerangan ynag terjadi? Apa salahku? Belum layakkah aku untuk hamil?

Setiap hitungan hari terasa begitu berat dan menyiksa saat kehamilan yang dinanti tak kunjung datang. Aku semakin terpuruk saat orang-orang terdekat selalu bertanya perihal kehamilanku atau kenapa belum hamil, apakah karena aku menunda untuk hamil atau ….? Aku seperti dibebani berton-ton barbel yang menjadikanku seperti terdakwa dan harus bertanggung jawab penuh perihal belum hamilnya aku.

Tuhan,

Ampuni jika aku pernah kesal pada-Mu karena diri ini belum juga Engkau beri anak, sementara aku sangat mendambakan kehadirannya

Namun kemudian, saat aku tengah sendiri, merenungi segalanya, timbullah sebuah pertanyaan kecil dalam hati ini, “benarkah aku ingin hamil?”, “benarkah aku menginginkan kehadiran seorang anak?”, “benarkah kehamilan merupakan hal yang paling ku inginkan setelah menikah?”, “benarkah anak satu-satunya yang ku inginkan hadir segera setelah aku menikah?”. Pertanyaan demi pertanyaan terus menghantui dan aku mulai dihadapkan pada kenyataan baru yang belum pernah kupikirkan setelah menikah. Sekali lagi, pertanyaan itu hadir, “benarkah aku menginginkan kehadiran seorang anak?”

Kemudian hadirlah berbagai kenyataan lain yang  terungkap dari sisi lain diriku. Bahwa aku begitu berkeinginan untuk hamil karena tuntutan dari orang-orang dan lingkungan sekelilingku. Aku terobsesi untuk hamil karena cemburu dengan orang-orang yang segera hamil setelah menikah dan aku dapat mendengar dengan jelas ego-ku berkata, “masa sih kamu belum juga hamil? Apa ada yang salah dengan dirimu??”

Selain itu, aku juga begitu ingin hamil karena tuntutan usia yang sudah lebih dari cukup untuk memiliki anak dan gawatnya lagi, aku telah mampu merawat anak-anak dengan telaten! Tuhan, aku dihantui dan dirongrong oleh ego yang menguasaiku…

Pada kenyataannya, aku masih (hanya) ingin berdua  dengan suamiku dan menghabiskan waktu berdua saja dengan bermanja-manja, bercanda dan lebih saling mengenal satu sama lain. Aku ingin merasakan (nikmatnya) pacaran setelah me nikah, ingin merasakan diperhatikan dan disayang oleh suami dan tidak ingin ini semua terbagi. Egois memang, but this is the truth. Semakin aku menyadari apa yang sebenarnya aku inginkan maka aku semakin berusaha untuk menjalani hidup ini sesuai dengan yang digariskan Tuhan, Sang Maha Tahu akan segala yang (sebenarnya) aku inginkan saat ini.

Maka saat ini aku sedang berada pada tahap menikmati segala yang dianugerahkan Tuhan padaku yaitu belajar menerima apa yang ada dan menyesuaikan diri dengan peran terbaruku ku kini-seorang istri-dengan sebaik-baiknya. Karena aku tahu, Tuhan Maha Tahu segala yang terbaik bagiku dan kuyakin suatu saat nanti, jika aku telah mampu menikmati dan menyesuaikan segala yang diberikan Tuhan padaku, maka Dia akan menganugerahkan nikmat lain padaku yang tentunya akan menjadi anugerah terindah dalam hidupku. Amin..

Be upgrade my self!

Persahabatan pasangan cerdas

And the show is here…

(An interest copy of article)

Sebuah status di facebook cukup menggelitik batin saya. Ada teman menulis ia keberatan dengan kedekatan hubungan antara pasangannya dengan orang lain yang disebut sahabat. Ia kuatir sahabat ini suatu hari akan jadi duri dalam daging. Teman lain menimpali, ia juga merasa pasangannya mulai menyimpan rasa dengan orang lain yang diaku teman. Saya agak prihatin dengan begitu mudahnya orang mengungkap beban pikiran dalam rumah tangga di status facebook (bukankah itu membuka aib sendiri..??). Di sisi lain saya juga gundah dengan fenomena, pasangan makan teman atau pasangan di makan teman, atau pasangan mulai cari teman. Ada apa dengan cinta..??

Saya pernah tulis dalam dua note tentang Soulmate, adalah wajar jika setiap dari kita membutuhkan teman. Bahkan masih bisa diterima jika kita mempunyai soulmate beda gender meski sudah menikah. Mengapa, bukankah kita sudah punya soulmate dunia akherat, pasangan kita. Saya jawab, berdasarkan pengalaman pribadi, tidak semua bidang yang jadi perhatian dan hobi saya juga diminati si dia. Dengan kelelahannya dari kantor dan waktu yang harus dibagi dengan anak, mungkin kita tidak cukup punya banyak waktu untuk berdiskusi tentang hal yang kurang penting.

Contoh, saya senang menulis si ayah tidak, meski dia baca semua tulisan yang saya sodorkan ke depan hidungnya, akan butuh waktu dan effort tidak sedikit untuk memintanya menulis komentar. Apalagi akhir-akhir ini saya mulai tertarik menulis dengan keindahan, puisi. Satu bentuk tulisan yang tidak tune dengan minat ayah. Apakah saya tetap harus memaksa dia menjadi soulmate saya di bidang ini, bukankah lebih menyenangkan untuk mencari soulmate baru yang memiliki ketertarikan sama. Dia mengizinkan saya berteman dengan siapapun. Saya cerita padanya tentang semua orang yang saya temui dan spesifikasinya dalam memenuhi lahan kosong dalam hidup saya.

Suatu hari saya katakan padanya.. “Bunda punya soulmate baru di facebook. Laki-laki, hobinya nulis puisi ..!” Apa dia marah..?? No way.. dia senang, karena para soulmate ini sudah meringankan bebannya dari kewajiban mengomentari note saya. Sebaliknya suatu hari dia buka facebooknya dan menunjuk seorang wanita muda yang cukup menarik. Katanya ..”Bunda ini soulmateku di kantor..orangnya smart.. Add deh.. Insya Allah bermanfaat..!!” Begitulah kami dalam hidup berteman. Terbuka, tidak ada rahasia. Begitupun teman yang kami pilih, hanya mereka yang memberi nilai tambah positif. Bukankah kita diajarkan untuk bergaul dengan orang yang baik dan sholeh.

Cinta saja antara kita dan pasangan tidak akan cukup menahan badai, apalagi setelah sekian tahun tanpa disemai ulang, getarannya itu loh sering memudar. Komunikasi juga harus dua arah dan positif. Artinya kita dan pasangan harus bisa saling curhat apapun masalahnya dan saling menanggapi dengan baik. Buat pasangan yang keduanya harus bekerja, balancing harus selalu terjaga. Buat bunda di rumah, jadikan rumah surga bagi suami. Tempat peristirahatan paling nyaman. Sambut dan antar dia dengan cium tangan dan sun pipi, ucap doa di telinganya sebelum berangkat. Ritual yang indah untuk menyemai cinta.

Kata kuncinya pengertian, kepercayaan, kesetiaan dan rasa syukur. Hati ini seluas samudera, mampu menyimpan dan menebar kasih sayang ke setiap sudut gelap hati manusia. Selama kasih sayang dan komitmen dalam keluarga tetap terjaga, biarkan pasangan bebas berteman. Simpan cemburu, jauhkan curiga. Hindari pertanyaan yang menyelidik, ada ratusan kosa kata dan ragam intonasi untuk bertanya tentang ’teman’ pasangan tanpa nada menyelidik. Sehingga tidak ada sembunyi-sembunyi, alih-alih menghindari curiga, yang ada malah menimbulkan rawan bencana.

Setiap orang butuh teman untuk menjaga harmoni.. Dari pada ribut pasangan berteman dengan siapa bukankah lebih baik kita cari teman sabanyak mungkin dari lingkungan orang sholeh dan sukses. Cari teman di facebook yang suka menulis hal-hal baik dan indah, biasanya keindahan dan kebaikan juga menular.

Jadiah teman yang baik bagi pasangan, hindari kerewelan yang tidak perlu. Kembalikan sikap dan perilaku pasangan hanya kepada Allah, sebaik-baik tempat mohon pertolongan, berlindung dan menemukan solusi. Jadikan diri kita penyejuk mata dan hati pasangan. Bukankah anak-anak hebat baru bisa lahir dari ortu yang solid. Kasihan kan anak-anak, hidup ditengah ortu yang menyimpan curiga.

Menceritakan masalah kita dan pasangan pada orang lain, apalagi di status facebook, adalah membuka aib sendiri. Fitnah akan mudah hinggap dan badai akan semakin besar. Syukur jika tempat kita curhat adalah orang yang berpikir dan menjaga hati tetap positif, kalau tidak. Kita akan terjebak pada membesar-besarkan masalah atau malah membuat masalah baru. Pilih hanya teman yang bisa dipercaya untuk mencari solusi. Bukan teman bergunjing. Teman yang sholeh akan saling menguatkan.

Kita boleh bercita-cita memiliki pasangan yang mampu menjadi penghibur hati, bisa berbagi masalah dengannya dan mengerti apa yang kita senangi. Tapi kita juga perlu tahu bagaimana mengambil hatinya disamping selalu siap memberi perhatian yang menyenangkan dan mengembirakan dirinya. Maka jadilah kita pasangan idaman setiap insan.

Suami dan isteri yang sholeh akan berusaha memberi wajah jernih pada rumah tangga mereka. Kasih sayang yang lahir adalah hasil dari usaha masing-masing dalam mencari keridhaan Allah, bukannya dorongan nafsu semata. Suami dan isteri perlu meletakkan hubungan mereka dengan Ilahi sebagai pondasi bangunan rumah tangga, sehingga semua masalah akan selalu diselesaikan dengan jalan yang paling diridhai Allah. Dan jika kita bersabar maka terhapuslah dosa-dosa lalu. Sebaliknya tidak mustahil juga masalah dengan pasangan merupakan jalan peningkatan derajat dari Allah. Maka bersabarlah dan cari solusi paling positif. Mudah-mudahan bermanfaat.

Marriage is an adjustment (II)

Penyesuaian butuh pengorbanan…

Suatu saat, newly married couple akan merasakan bahwa pernikahan itu tidaklah seindah kedengarannya. Mengapa bisa begitu?

Meleburkan dua perbedaan bukanlah hal yang mudah jika tidak mau dibilang sulit. Seorang laki-laki dan seorang wanita dari latar belakang yang berbeda yang telah diikat tali pernikahan harus terus belajar meleburkan perbedaan mereka dalam satu penyesuaian sehingga kelak akan didapat satu pasangan yang langgeng dan awet.

Meminta pasangan untuk berubah bukanlah yang mudah (juga) dan tidak seorangpun mau melakukan perubahan tanpa ada alasan yang jelas. Coba bayangkan, seorang A yang hidup lebih dari dua puluh tahun, memiliki keunikan kepribadian dan merasa nyaman dengan kepribadiannya tiba-tiba diusik oleh keinginan pasangannya untuk berubah. Tentulah sulit dan butuh waktu, perenungan, dan masih banyak lagi, bahkan mungkin saja timbul pertanyaan dalam hati kecilnya, “Who do you think you are…?” Lah wong cuma pasangan aja kok…

Begitulah, tidak mudah untuk melakukan perubahan dan jangan pernah meminta pasangan untuk berubah seperti maunya kita karena pasangan kita bukanlah diri kita, tapi pasangan kita adalah teman hidup yang dengannya kita dapat berbagi banyak hal, mulai dari hal yang baik hingga berbagai kebiasaan dan keluh kesah dan masih banyak lagi. Bukankah indah jadinya bila kita mampu memahami diri pasangan yang jelas-jelas memiliki perbedaan dengan kita?

“The goal in marriage is not to think alike, but to think together”  

Tujuan dari sebuah pernikahan bukanlah untuk menyamakan pikiran, namun tujuan dari sebuah pernikahan adalah untuk berpikir bersama, mencari multi solusi dari permasalahan yang dihadapi dalam hidup, mencari beragam cara untuk menyelesaikan masalah. Jika sebelumnya kita hanya menyelesaikan permasalahan dengan hanya 1 kepala saja, namun kini ada teman hidup yang dapat berbagi dengannya.

“Women marry men, hoping they will change. Men marry women, hoping they will not change. So each is inevitably disappointed”

Wanita berharap pasangannya akan berubah segera setelah menikah. Disisi lain, laki-laki berharap agar pasangannya tidak berubah sama sekali setelah menikah, menjadi seperti apa adanya. Maka ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, kesudahan yang didapat adalah kekecewaan. So what?

Hal terbaik yang sangat disarankan untuk dilakukan adalah mulai melakukan penyesuaian. Dimana penyesuaian itu sendiri bermakna mencari yang jalan keluar terbaik untuk kelangsungan kehidupan pernikahan. Dalam konteks pernikahan, maka penyesuaian adalah mencari persamaan dari perbedaan dua manusia. Jika isteri tidak menyukai kebiasaan suami yang tidak suka minum susu maka isteri harus mulai belajar memahami cara berpikir suami, demikian juga sebaliknya.

Maka tidak salah jika psikolog berkata bahwa lembaga pernikahan adalah lembaga penyesuaian diri. Kita tidak perlu meminta pasangan untuk berubah, tapi mulailah berpikir untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan pasangan kita.

Ada perilaku kita yang perlu “dieliminasi” segera setelah menikah, karena sudah tidak layak dipakai untuk yang sudah menyandang status “suami/isteri”, seperti kebiasaan “hang out” dengan teman-teman sepulang kerja atau “Shop until drop” (bagi wanita). Sudah saatnya kita berpikir untuk kemaslahatan bersama, bukan berpikir untuk kemaslahatan sendiri. Maka kembangkan kebiasaan yang berguna untuk kemaslahatan bersama, tinggalkan kebiasaan yang mementingkan kemaslahatan sendiri karena kini status telah berbeda.

For you my love, let’s maintain our adjustment…

Hikmah Puasa

Pada dasarnya, semua ibadah yang diperintahkan oleh Allah swt mengandung hikmah yang sangat besar manfaatnya. Hanya saja, kebanyakan manusia tidak menyadarinya. Mereka hanya melihat ibadah sebatas kewajiban yang menjadi beban saja. Demikian pula dengan ibadah puasa. Allah mensyariatkan ibadah puasa kepada umat Islam dan pastilah puasa tersebut mengandung hikmah dan manfaat bagi manusia. Adapun hikmah dari puasa tersebut adalah:

1. Puasa dapat meningkatkan iman dan ketakwaan kita kepada Allah swt sebagaimana yang diisyaratkan dalam surah Al-Baqarah ayat 183

2. Puasa merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah swt atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah

3. Puasa melatih kita untuk mengendalikan nafsu dan syahwat, terutama nafsu perut (makan dan minum) dan nafsu seksual sehingga fisik dan jiwa kita akan merasa lebih tenang

4. Puasa melatih kepekaan sosial. Orang yang berpuasa dapat merasakan penderitaan orang miskin. Dengan menahan haus dan lapar selama sekitar dua belas jam, mereka bisa membandingkan bagaimana lapar dan hausnya orang-orang miskin setiap hari.

5. Puasa melatih kejujuran atau sifat amanah, keikhlasan dalam beramal dan kesabaran. Orang-orang yang berpuasa terbiasa berusaha menjaga puasanya dengan tidak makan dan minum dimanapun dia berada, sebelum datang waktunya berbuka, baik di tempat ramai maupun ketika sendirian. Mereka sadar, begitu mereka sengaja memasukkan makanan atau minuman ke mulut maka batallah puasa mereka.

6. Puasa bisa menjaga kesehatan fisik. Meski perut orang yang berpuasa kosong dari makanan, tetapi puasa justeru dapat menjadikan tubuh semakin sehat dan memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap penyakit. Puasa dapat mengistirahatkan organ-organ pencernaan yang setiap hari bekerja, sehingga fungsinya bisa terjaga dan menjadi semakin kuat dan sehat.

Rasulullah saw bersabda,”Berpuasalah maka kamu akan sehat.” (HR. Ahmad)

  • Calendar

    • December 2018
      M T W T F S S
      « Apr    
       12
      3456789
      10111213141516
      17181920212223
      24252627282930
      31  
  • Search