Benarkah Aku menginginkan kehadiran seorang anak?
Pertanyaan tersebut sering timbul saat aku berdoa agar diberikan keturunan dan semakin hari pertanyaan tersebut makin menghantui seiring dengan bertambahnya usia pernikahanku. Tuhan, apakah yang saat ini tengah bergejolak dalam hati ini?
Melihat wanita yang pada umumnya memiliki kodrat untuk hamil, menjadi ibu-ummi-bunda-mama atau apa saja panggilan yang layak disematkan untuk seorang wanita yang telah memiliki anak. Aku pernah merasa cemburu melihat seorang wanita yang belum genap 2 bulan pernikahannya tapi telah hamil dan dia terlihat sangat berbahagia dengan kehamilannya tersebut. Aku sempat sedih dan merasa sebagai orang yang paling malang di dunia karena hingga saat ini belum juga ada tanda-tanda hamil pada diriku, yaitu suatu keadaan yang sangat diinginkan wanita segera setelah dia menikah. Aku merasa Tuhan sedang tidak berpihak padaku, di saat aku merindukan kehadiran anak, Tuhan belum memberinya. Apakah gerangan ynag terjadi? Apa salahku? Belum layakkah aku untuk hamil?
Setiap hitungan hari terasa begitu berat dan menyiksa saat kehamilan yang dinanti tak kunjung datang. Aku semakin terpuruk saat orang-orang terdekat selalu bertanya perihal kehamilanku atau kenapa belum hamil, apakah karena aku menunda untuk hamil atau ….? Aku seperti dibebani berton-ton barbel yang menjadikanku seperti terdakwa dan harus bertanggung jawab penuh perihal belum hamilnya aku.
Tuhan,
Ampuni jika aku pernah kesal pada-Mu karena diri ini belum juga Engkau beri anak, sementara aku sangat mendambakan kehadirannya
Namun kemudian, saat aku tengah sendiri, merenungi segalanya, timbullah sebuah pertanyaan kecil dalam hati ini, “benarkah aku ingin hamil?”, “benarkah aku menginginkan kehadiran seorang anak?”, “benarkah kehamilan merupakan hal yang paling ku inginkan setelah menikah?”, “benarkah anak satu-satunya yang ku inginkan hadir segera setelah aku menikah?”. Pertanyaan demi pertanyaan terus menghantui dan aku mulai dihadapkan pada kenyataan baru yang belum pernah kupikirkan setelah menikah. Sekali lagi, pertanyaan itu hadir, “benarkah aku menginginkan kehadiran seorang anak?”
Kemudian hadirlah berbagai kenyataan lain yang terungkap dari sisi lain diriku. Bahwa aku begitu berkeinginan untuk hamil karena tuntutan dari orang-orang dan lingkungan sekelilingku. Aku terobsesi untuk hamil karena cemburu dengan orang-orang yang segera hamil setelah menikah dan aku dapat mendengar dengan jelas ego-ku berkata, “masa sih kamu belum juga hamil? Apa ada yang salah dengan dirimu??”
Selain itu, aku juga begitu ingin hamil karena tuntutan usia yang sudah lebih dari cukup untuk memiliki anak dan gawatnya lagi, aku telah mampu merawat anak-anak dengan telaten! Tuhan, aku dihantui dan dirongrong oleh ego yang menguasaiku…
Pada kenyataannya, aku masih (hanya) ingin berdua dengan suamiku dan menghabiskan waktu berdua saja dengan bermanja-manja, bercanda dan lebih saling mengenal satu sama lain. Aku ingin merasakan (nikmatnya) pacaran setelah me nikah, ingin merasakan diperhatikan dan disayang oleh suami dan tidak ingin ini semua terbagi. Egois memang, but this is the truth. Semakin aku menyadari apa yang sebenarnya aku inginkan maka aku semakin berusaha untuk menjalani hidup ini sesuai dengan yang digariskan Tuhan, Sang Maha Tahu akan segala yang (sebenarnya) aku inginkan saat ini.
Maka saat ini aku sedang berada pada tahap menikmati segala yang dianugerahkan Tuhan padaku yaitu belajar menerima apa yang ada dan menyesuaikan diri dengan peran terbaruku ku kini-seorang istri-dengan sebaik-baiknya. Karena aku tahu, Tuhan Maha Tahu segala yang terbaik bagiku dan kuyakin suatu saat nanti, jika aku telah mampu menikmati dan menyesuaikan segala yang diberikan Tuhan padaku, maka Dia akan menganugerahkan nikmat lain padaku yang tentunya akan menjadi anugerah terindah dalam hidupku. Amin..
Be upgrade my self!
